Aku bisaaa

Banyak banget yang ngomong...

"Padahal kamu anaknya ini..."
"Bapakmu looohh orang ada..."
"Padahal tinggal minta aja..."

Sebagai anak juga aku tahu diri, dah segede ini masih minta-minta. 
Apalagi barang mewah. 
Dikasih syukur, gak dikasih juga gak masalah.
Jujur, gak pernah minta kecuali kalo hari ulang tahun wkwkwk pasti kutagih 🤣

Ditambah riwayat keuanganku yang kacau dimasa lalu.
Bener-bener sebuah penyesalan untukku dan mungkin yang bikin Orang Tuaku belum percaya sepenuhnya sama aku.

Tapi, dari sini aku lihat cara pandang Orang Tua Tionghoa sama Orang Tua pada umumnya?

Orang Tua Tionghoa :
"Gapapa, namanya juga belajar"
"Jadi langkah apa selanjutnya?"

Orang Tua kebanyakan : 
"Nah kan...makanya kalo dikasihtau". 
"Kenapa kamu gagal?"
"Kok bisa?"

Yang satu fokus cari solusi, 
yang satu fokus mutar ulang rekaman kejadian dari episode 1 sampai tamat 🤣

Pada akhirnya semua orang tua sama-sama sayang, cuma cara menyampaikan 'pelajarannya' yang berbeda.

Tapi setidaknya, aku belajar dari situ.
Aku berkembang dari semua kesalahanku.
Sekarang aku merasa jauh lebih pintar dari aku yang dulu wkwk.
Aku belajar dari guru yang paling mahal, yaitu Pengalaman yang kualami sendiri.

Bahkan ketika orang-orang merasakan bahwa Orang Tuaku lebih sayang dengan Kakakku, akupun gak masalah.
Kenapa? Yang membersamai Orang Tuaku selama ini tuh Kakak, bukan aku.
Wajar kalo mereka lebih dekat.
Wajar kalo Orang Tuaku apa-apa ke Kakak.
Dan mereka gak ngerasain rasanya jadi Kakak.
Mungkin Kakak harus kebanyakan atau berkali-kali ngalah karena kadang keinginannya gak sejalan dan gak sepaham sama keinginan Orang Tua. 

Tinggal sama Orang Tua juga gak segampang itu kan? Sedikit banyaknya pasti ada selisih paham.
Dan aku gak merasakan itu karena gak tinggal sama Orang Tuaku, karena yang tinggal sama mereka tuh Kakak.

I'm fine kok. Ketika orang-orang melihat Duniaku sangat jauh berbeda dengan Kakak yang kemana-mana selalu naik mobil, hidupnya berlimpah, yaaaa gapapa. 

Kalopun jalanku emang gak semulus Kakak, kita gak pernah tau ujian apa yang Kakak lewati selama tinggal bersama Orang Tua. 
Mungkin lebih berati daripada aku yang apa-apa tanpa larangan Orang Tua. 
Bebas bergerak tanpa harus selisih paham dulu dengan Orang Tua.

It's oke kalo Orang Tuaku lebih sayang sama Kakak. Dia saudaraku, ikhlas lahir batin. Asal jangan sayang sama anak orang aja, aku bakal protes dibarisan paling depan 🤣

Setiap orang tuh hidup dengan ujiannya masing-masing. 
Gak banyak juga yang mandang aku sebelah mata cuma karena aku gak se-wah Kakak.
Yang cuma naik motor kemana-mana.
Ke Samarinda-pun naik grab.

Ih padahal enak kemana-mana naik grab tau, berasa punya sopir pribadi wakakaka. 
Gak perlu capek nyetir,
Gak perlu cari parkiran,
trus diantarnya sampai depan tujuan.

Yaaa namanya jaman sekarang.
Sukses itu dinilai kalo kita punya mobil, barang branded, dll.

Aku pasti bisa. 
Sukses kayak kedua orangtuaku,
Sukses kayak kakak-kakakku. 
Sukses dengan caraku sendiri.
Aamiin, Insyaa Allah..

Postingan populer dari blog ini

Kusebut dia Red Flag.

Hobi Journaling

Proker