Usaha punya Tim, Owner tetap Hadir

Kalo ditanya sudah punya Tim, kenapa masih turun tangan?

Ya karena ini usaha saya.
Kalau saya sendiri sudah gak peduli dan gak mau tahu, lalu siapa yang akan lebih peduli?

Sebenarnya gak ada yang aneh kalau owner masih turun tangan. Karyawan membantu menjalankan usaha, tapi owner tetap punya rasa memiliki yang berbeda.

Bukan karena gak percaya sama tim.
Hanya saja, rasanya memang susah untuk benar-benar lepas tangan. Karena punya usaha bukan berarti berhenti bekerja. Justru kita ingin tahu sendiri bagaimana usaha yang kita bangun itu berjalan.

Aku gak mau usaha ini bergantung sepenuhnya sama aku. Tapi aku juga gak mau sampai pada titik di mana aku nggak tahu apa yang terjadi di dalam usaha sendiri. Usaha boleh berjalan tanpa owner setiap saat. Tapi bukan berarti owner harus berhenti hadir.

Karyawan ada untuk membantu usaha berjalan. Owner ada untuk memastikan usaha itu tetap berjalan ke arah yang benar.  Karena gak semua hal harus dikerjakan owner. Tapi menurutku, owner tetap perlu sesekali turun ke lapangan. Supaya nggak cuma tahu angka di laporan, tapi tahu keadaan sebenarnya.

Delegasi itu penting. Kepercayaan itu penting.
Tapi hadir dan tahu apa yang terjadi di usaha sendiri juga penting.

Pada akhirnya, tujuan punya tim bukan supaya owner nggak pernah turun tangan lagi. Tapi supaya usaha bisa terus berkembang, sementara owner punya waktu untuk melihat gambaran yang lebih besar. Kalau sesekali masih turun tangan, bukan berarti usaha belum berhasil.
Mungkin justru karena kita masih menikmati proses membangunnya.

Gak ada usaha yang benar-benar autopilot.
Ada tim yang membantu, ada sistem yang bekerja, ada SOP yang berjalan. Tapi tetap ada owner yang sesekali harus turun tangan karena gak ada yang bisa punya rasa memiliki persis seperti dirinya.

Postingan populer dari blog ini

Kusebut dia Red Flag.

Proker

Hobi Journaling